Karena molekul-molekul dalam larutan terdispersi secara merata, maka penggunaan larutan sebagai bentuk sediaan, umumnya memberikan jaminan keseragaman dosis dan memiliki ketelitian yang baik jika larutan diencerkan atau dicampur.
Bila zat A dilarutkan dalam air atau pelarut lain akan terjadi tipe/macam-macam larutan sebagai berikut:
- Larutan encer, yaitu larutan yang mengandung jumlah kecil zat A yang terlarut.
- Larutan pekat, yaitu larutan yang mengandung jumlah besar zat A yang terlarut.
- Larutan jenuh, yaitu larutan yang mengandung sejumlah maksimum zat A yang dapat larut dalam air pada tekanan dan temperatur tertentu.
- Larutan lewat jenuh, yaitu larutan yang mengandung jumlah zat A yang terlarut melebihi batas kelarutannya didalam air pada temperatur tertentu (FI IV: semua pengukuran dilakukan pada suhu 25°C)
Zat pelarut disebut juga solvent, sedangkan zat yang terlarut disebut solute.
Solvent yang biasa dipakai adalah:
- Air untuk macam-macam garam.
- Spiritus, misalnya untuk kamfer, iodium, menthol.
- Gliserin, misalnya untuk tannin, zat samak, borax, fenol.
- Eter, misalnya untuk kamfer, fosfor, sublimat.
- Minyak, misalnya untuk kamfer, dan menthol.
- Parafinnum Liquidum, misalnya untuk cera, cetaceum, minyak-minyak, kamfer, menthol, chlorobutanol.
- Eter minyak tanah, untuk minyak-minyak lemak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Thanks your coment